Postingan Blog :
Home » » PROSES PERKAWINAN ADAT SASAK

PROSES PERKAWINAN ADAT SASAK

Written By roby on Sabtu, 20 November 2010 | 12.59

Setelah pada artikel terdahulu blog ini membahasa tentang Sejarah Suku Sasak (Pulau Lombok, NTB). Kali ini blog ini ingin membahas Arti dan Tata Cara Pernikahan dalam Adat Sasak yang disebut MERARIQ

I.ARTI DAN MAKNA MERARIQ

Masyarakat Etnis Sasak dalam proses mengembangkan keturunan melalui proses perkawinan yang disebut dengan istilah “Merariq”. Kata “merarik” berasal dari kata “ariq” yang berarti “adik”, dengan tambahan awalan ”me” berarti menjadi kata kerja berarti ”memperadik”. Makna Merariq adalah sebuah proses dimana seorang laki-laki menjadikan seorang wanita sebagai pasangan hidup untuk tujuan melanjutkan keturunan keluarga.

II.PROSES PRA MERARIQ
Untuk menuju ke jenjang Merarik dua calon mempelai melalui tahapan sesuai dengan tradisi Masyarakat Adat Sasak (MAS) sebagai berikut :

1.SALING KENAL : Perkenalan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang disengaja ada juga yang secara tidak sengaja, bahkan ada yang direkayasa oleh pihak keluarga didasarkan dorongan keinginan orang tua ingin melihatnya berjodoh dengan misan atau sepupunya.

Pada umunya perkenalan muda-mudi (terune-dedare) berkenlan pada saat adanya kegiatan “begawe” (pesta adat) ; gawe roah (kenduri) atau gawe saur sangi (selamatan bayar nazar), di keramaian hiburan/tontonan, saat ke pasar, atau saat pengolahan pertanian.

Dedare Sasak apa bila keluar rumah biasanya ditemani orang tua atau keluarga atau orang dekat yang dipercaya oleh keluarga. Pendamping ini berfungsi sebagai penghubung disebut dengan “Subandar”.

Pada saat sang laki-laki menaruh hati sebagai tanda simpati ia akan memberikan bingkisan kecil seperti : makanan ringan, sabun mandi, sapu tangan, alat kosmetik dll, benda-benda ini dinamakan “pembugi”. Sebagai pembugi diterima maka ia boleh datang bertandang kerumah sang gadis yang dalam istilah sasak disebut dengan “Midang”.

2.MIDANG : atau bertandang kerumah sang gadis ini boleh dilakukan oleh siapa saja yang menghendakinya kenjadikannya kelak sebagai pasangan hidupnya. Midang memiliki tata krama yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, dalam masa pemidanganini semua memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan hati sang gadis dalam menentukan pilihan hidupnya. Pelanggaran tata krama pemidangan dapat berakibat fatal, karena salah satu dari laki-laki yang datang midang akan tersinggung dan merasa harga dirinya dilecehkan.

3.MEREWEH dan BEJAMBEQ : “Mereweh” dan “Bejambeq” adalah sebuah peristiwa dimana seorang pria dan gadis menentukan pilihan hatinya dihadapan umum. Kegiatan ini dilakukan pada saat dilaksanakan “gawe adat” dimana dalam pesta tersebut sederetan perempuan duduk bersama subandarnya. Sederetan laki-laki di sisi lainnya menyiapkan sejumlah barang-barang persembahan ; seperti buah-buahan, pakaian, perhiasan, kosmetik dll sebagai persembahan kepada gadis yang diinginkannya ditancapkan bendera kecil yang diberi nama sang gadis idamannya. Bingkisan ini kemudian diantar oleh sang subandar, dan jika diterima maka bermakna bahwa sang gadis telah menentukan bahwa lelaki yang memberikan “Pereweh” (bingkisan) sebagai calon pasangannya. Selanjutnya sang gadis memberikan “Pejambik”.

4.NENARI : “Nenari” berasal dari kata “tari” atau memikat, adalah sebuah proses yang dilakukan pihak pria untuk menentukan kesanggupan sang gadis untuk diperistri. Proses ini dilakukan dengan perantaraan subandar untuk menentukan kapan waktu yang disanggupi untuk”merariq”. Dalam tahap ini biasanya disertai dengan pemberian berbagai macam hadiah kepada si gadis. Semua pemberian ini harus disaksikan oleh Subandar, karena jika terjadi sang gadis diperistri oleh orang lain maka ia harus mengembalikan semua pemberian tersebut.

5.MELAIQ : “Melaiq” adalah proses dimana sang pria menjemput sang gadis dari rumahnya untuk tujuan “merarik” dilakukan pda waktu malam hari sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat bersama. Dalam proses ini sang lelaki tidak melakukannya sendiri dibantu oleh orang dipercaya untuk membawa sang gadis ketempat persembunyian (Sasak ; Pesebo’an). Tempat persembunyian ini adalah tempat yang dianggap netral merupakan tempat perlindangan. Masyarakat sekitar wajib melindungi hak-hak adat kedua calon mempelai dan keamanan dari sang gadis dari gangguan pihak lain atau keluarga yang tidak setuju. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi konflik langsung antara pihak keluarga perempuan dan pihak keluarga laki-laki posisi tempat “pesebo’an” dalam hal ini sebagai penengah.

III.BEBERAPA CARA “MERARIQ” DALAM MASYARAKAT SASAK
Merariq adalah lembaga yang bertujuan membentuk sebuah rumah tangga bahagia melanjutkan trah/keturunan keluarga Etnis Sasak, beberapa cara merarik yang kita dapati dalam masyarakat Sasak ada yang Patut/Sesuai dibenarkan secara adat dan ada juga yang tidak dibenarkan secara adat. Cara-cara yang tidak sesuai dengan adat termasuk dalam pelanggaran adat yang oleh masyarakat adat diberikan sangsi berdasarkan besar kecil kesalahannya. Sejumlah cara Merariq yang kita temukan seperti :

1.MELAIQ : Adalah kesepakatan kedua calon mempelai untuk menjadi pasangan suami istri dengan cara mengambil dari rumahnya pada malam hari (sesuai penjelasan di atas). Proses ini dilanjutkan dengan tata cara yang ditentukan dalam adat yakni :
a.Mesejati, : menegaskan bahwa kepada “keliang“ (pemangku adat) bahwa diwilayahnya telah diambil sang gadis untuk tujuan Merariq.
b.Nyelebar : Mengebarkan kepada keluarga dan masyarakat bahwa telah terjadi proses “merarik” si anu dari keluarga si anu dengan pria anu dari masyarakat adat anu…..,
c.Nuntut Wali Nikah : Memohon untuk diberikan wali nikah.
d.Rebaq Pucuk : Menyanggupi beban biaya yang ditanggung oleh pihak pria untuk pelaksanaan “Gawe adat”.
e.Baet Bande : Menentukan kesediaan pihak perempuan untuk menerima pihak laki dalam menentukan hari penyelesaian proses adat Sorong-Serah dan Nyongkolan.
f.Sorong Serah Aji Krama : Upacara Adat Penentuan Status Perkawinan “Merarik” secara hukum adat.
g.Nyongkol : Prosesi silaturrahmi masyarakat adat dari kedua belah pihak keluarga mempelai ditandai dengan sebuah karnaval budaya yang mengatur sang mempelai untuk berkunjung ke orang tua pihak perempuan sebagai simbul bahwa kedua keluarga besar telah dipersatukan oleh sebuah perkawinan dan tanggung jawab pengasuhan pribadi dan sosial diserahkan pada pihak laki-laki.
h.Bales Nae/Nyoso : Adalah sebuah proses silaturrahmi yang dilakukan oleh keluarga perempuan ke keluarga laki-laki untuk saling mempererat tali kekeluargaan dan saling memaafkan jika dalam proses yang berlangsung ada kekurangan.

2.MEMADIK : Disebut juga dengan “belako” (meminta/melamar). Perkawinan ini dilakukan jika kedua calon mempelai ada dalam satu rumpun pertalian darah. Misalnya masih ”misan” atau ”sepupu” dari garis keturunan laki-laki.

3.PERONDONG : Ikatan Perkawinan dengan cara memperjodohkan antara perjaka dan gadis yang telah menjalin cinta dan disetujui oleh pihak keluarga. Ikatan ini dilakukan oleh kedua orang tua calon mempelai untuk tujuan tertentu.

4.KAWIN GANTUNG : Adalah sebuah ikatan perjanjian yang dilakukan oleh calon mempelai agar kelak perjodohannya bisa berlangsung. Hal ini dilakukan pada saat keduanya harus berpisah karena melanjutkan studi atau bekerja merantau ketempat yang cukup jauh.

5.MENEKEN : Perjodohan ini dilakukan dengan memberikan selembar tikar dan sebuah bantal yang dilakukan oleh pihak perempuan kepada laki-laki yang telah menjalin cinta dengan dirinya. Dengan simbul benda diatas si perempuan boleh meminta kepada keluarganya untuk dinikahkan dengan pria idamannya.

6.NGUKUH/NGEKEH : Perjodohan ini dengan memberikan ”pemaje” (pisau kecil/runcing) dan atau ”Pelocok” (alat tumbuk sirih), kepada orang tua sang gadis sebagai simbul penyerahan dirinya untuk dinikahkan dengan perempuan idamannya.

7.PERUPUT : Cara perkawinan ini dilakukan untuk menutup ”aib keluarga” jika telah terjadi hubungan diluar nikah yang dianggap tabu sehingga harus dilakukan pernikahan. Terlebih jika sang perempuan telah ”hamil” maka harus dikawinkan segera. Jika laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab melarikan diri maka akan dicarikan laki-laki yangmau menikahinya demi untuk menutup ”aib keluarga”.

Cara-cara merarik yang tidak dibenarkan dalam adat :
•NGOROS : Mengambil di jalan atau tempat umum
•MERUGUL : Melakukan hubungan badan sebelum nikah
•BESEGAU : Menggoda/merebut istri orang
•BALEGANDANG : Merampas di saat sang gadis dalam proses Merarik dengan orang lain.

IV.KEARIFAN LOKAL DALAM PENYELESAIAN SENGKETA
1.SALING AJININ : Memberikan beban dan tanggung jawab yang seimbang, berat-ringan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak untuk menjaga citra/harga diri kedua keluarga dihadapan masyarakat. Semua kesepakatan adat dilaksanakan pada saat tahapan “rebuk pucuk”, cacat cela dalam proses perkawinan tidak lagi disebutkan pada saat “sorong serah aji krama”.
2.KETRIMEN : Disebut juga dengan “ketampen” (diterima), bila strata sosial dari pihak laki-laki berada di bawah derajat istrinya maka mereka atas kebijakan keluarga laki-laki diberikan wali untuk menikah karena masih mempertimbangkan bahwa masih seiman/seagama. Acara “bejango” / kunjungan keluarga biasanya dilakukan secara terbatas oleh dekat laki-laki.
3.KAPAICA : Bila perkawinan yang terjadi tidak sekupu kebangsaannya dan agamanya, pihak keluarga perempuan tidak setuju maka pihak keluarga perempuan akan mengirimkan orang lain sebagai wakil untuk menyelesaikan pernikahan dan adat.
4.KEHAMBIL/TEGADINGAN : Adalah pihak sebuah perjodohan oleh orang tua wanita karena sangat berharap memiliki seorang anak laki-laki. Semua kebutuhan dari upacara pernikahan dan kebutuhan hidup dijamin oleh pihak perempuan. Dalam istilah Sasak disebut dengan ”idepan te nganak mame”. (Sebagaimana memiliki anak laki-laki).
5.KEPANJING : Perkawinan ini dilakukan jika antara kedua belah pihak, laki dan perempuan tidak mendapat titik temu sedangkan perkawinan tidak boleh dibatalkan. Masing-masing pihak bersikokoh tidak bertemu kemufakatan adat, permasalahanini diserahkan kepada Pengemong Adat Desa (Kepala Desa) dalam Sidang Krama Desa.

PENUTUP

Demikian makalah ini untuk memberikan gambaran secara umum mengenai sistim perkawinan dalam Masyarakat Adat Sasak ”Merarik”. Makalah ini kami salin dari tulisan yang disusun oleh : L. MASKUR dalam makalahnya berjudul Proses Perkawinan Adat Sasak. Kami tak lupa mengucapkan terima kasih pada beliau yang telah menyusun makalah ini.


Penyalin,
ROBIA RASMANA NOPOLI
Share this post :

+ komentar + 2 komentar

saheb
25 November 2010 16.28

Terima kasih ya.... artikelx berguna banget...

andy
26 November 2010 11.24

testing

Poskan Komentar

Sebelum Anda pergi.....
Mohon bantu saya memperbaiki tulisan ini : mungkin isinya kurang bermanfaat, tutorial kurang jelas, atau terdapat masalah lain dalam blog ini. Dan setiap komentar yang anda tinggalkan akan menjadi pembelajaran dalam penulisan blog ini.Terima kasih !

KAMI MENERIMA JASA PEMESANAN DOMAIN, HOSTING, DAN MENERIMA PEMBUATAN WEB BLOG DENGAN DOMAIN NAMA ANDA, SILAHKAN HUBUNGI HP.087864572527 ATAU EMAIL KE : robynopoli@yahoo.co.id

UNTUK MELIHAT PRODUK KAMI SILAHKAN KLIK DISINI
LINK TIPS-TRIK NGEBLOG
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. www.robynopoli.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger